Iklan

Beban Ekonomi DBD Tembus Rp9 Triliun, IDAI dan PAPDI Desak Pentingnya Vaksinasi Segala Usia

6/20/2026, 18:36 WITA Last Updated 2026-06-20T10:36:45Z


JAKARTA – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan stabilitas ekonomi di Indonesia. Berdasarkan studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), total beban ekonomi akibat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun, dengan angka rawat inap melampaui 2 juta kasus.

Dari total beban tersebut, BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun untuk pembiayaan layanan kesehatan. Sementara itu, pasien beserta keluarganya harus memikul sisa beban miliaran rupiah akibat pengeluaran langsung dan kehilangan pendapatan selama masa sakit.

Perubahan Iklim Picu Lonjakan Kasus DBD di Indonesia

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, MKM, menegaskan bahwa tren kasus DBD dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan. Pola cuaca yang tidak menentu dan fenomena perubahan iklim global disinyalir menjadi faktor utama yang memperluas risiko penyebaran virus dengue.

"Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini. Pemerintah telah merumuskan Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan Dengue yang menjadi pedoman dalam memerangi DBD di Indonesia," ujar dr. Prima dalam konferensi pers "ABCD Land—Ayo Bersama Cegah DBD!" di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Pemerintah juga tengah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) dengan pendekatan kolaboratif, mulai dari gerakan 3M Plus hingga pemanfaatan inovasi medis seperti vaksinasi DBD.

Rekomendasi Vaksin DBD untuk Anak dan Orang Dewasa ber-Komorbid

Banyak orang tua yang masih menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang datang di waktu tertentu saja. Meluruskan persepsi keliru tersebut, Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, mengingatkan bahwa risiko penularan bisa terjadi kapan saja dan dapat berkembang menjadi kondisi fatal seperti syok dengue. IDAI pun mengimbau para orang tua untuk melengkapi perlindungan anak lewat vaksinasi dengue.

Tidak hanya menyerang anak-anak, DBD juga sangat berbahaya bagi orang dewasa, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, memaparkan lonjakan risiko komplikasi serius bagi pasien dewasa dengan kondisi medis tertentu:

  • Penderita Hipertensi: Risiko komplikasi 2–3 kali lebih tinggi.
  • Penderita Diabetes Melitus: Risiko komplikasi 3–5 kali lebih tinggi.
  • Penderita Penyakit Ginjal: Risiko komplikasi hingga 7 kali lebih tinggi.
  • Penderita Asma/Paru Kronis: Risiko komplikasi melonjak hingga 2–12 kali lebih tinggi.

Mengingat tingginya risiko tersebut, PAPDI kini resmi merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa berusia 18–60 tahun sebagai langkah perlindungan mandiri.

Kampanye "ABCD Land" untuk Edukasi Keluarga Menjelang Libur Sekolah

Melihat rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir yang melonjak hampir tiga kali lipat dibanding dua dekade lalu, PT Takeda Innovative Medicines menginisiasi aktivitas edukasi bertajuk "ABCD Land — Ayo Bersama Cegah DBD!".

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menegaskan komitmennya untuk memperluas akses inovasi pencegahan melalui kemitraan erat bersama pemerintah dan organisasi profesi medis.

Aktivasi edukatif "ABCD Land" diselenggarakan pada 20–21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta. Menargetkan lebih dari 1.000 pengunjung, acara ini dikemas secara interaktif melalui konsultasi kesehatan dan sesi berbagi informasi bersama para ahli. Langkah ini diharapkan mampu membekali para keluarga dengan pemahaman proteksi DBD yang tepat, terutama dalam menjaga kesehatan anak-anak menjelang masa liburan sekolah.

Komentar

Tampilkan

  • Beban Ekonomi DBD Tembus Rp9 Triliun, IDAI dan PAPDI Desak Pentingnya Vaksinasi Segala Usia
  • 0

Terkini